Minggu, 23 Desember 2007

riple Manggarai: "Three in one, sir"!


Oleh Willem B Berybe *

DALAM dunia kedokteran bidang ginekologi ada istilah triplet yaitu bayi kembar tiga. Artinya tiga orang bayi lahir dalam satu peristiwa kelahiran. Kalau empat orang disebut quadruplet dan lima orang quintuplet seperti yang pernah dialami oleh pasangan keluarga William Kienast ketika anak mereka lahir kembar lima pada 24 Februari 1970 di Amerika Serikat. Fenomena kelahiran bayi dalam kehidupan manusia adalah penyelenggaraan Tuhan yang menciptakan manusia itu sendiri. Namun dalam realitas kehidupan sehari-hari peristiwa ini sering bersifat dilematis. Di satu sisi merupakan kebahagiaan yang tak terkirakan bagi sebuah keluarga di sisi lain momen ini justru menimbulkan situasi yang kritis (gawat) dan fatal. Tak jarang sang ibu harus mempertaruhkan nyawa demi kelahiran putra atau putrinya. Istilah triple berarti ‘terdiri dari tiga; bagian atau partai ‘ made of three parts or parties’ (Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current Elnglish, A S Hornby). Dalam pelajaran sejarah (dunia) terdapat istilah The Triple Alliance (Aliansi Tiga Negara) yaitu organisasi yang melibatkan asosiasi militer dari tiga negara di Eropa untuk menggalang sebuah kekuatan militer.

Identitas Manggarai

Selasa 17 Juli 2007 lalu resmi sudah terbentuknya sebuahkabupaten baru di NTT, yaitu Kabupaten Manggarai Timur (KMT) dengan Ibu kota Borong. "Bayi Manggarai" ini lahir berdasarkan undang-undang tentang pemekaran wilayah delapan kabupaten baru di seluruh Indonesia yang ditetapkan melalui sidang (rapat umum) DPR RI di Senayan Jakarta. Peristiwa bersejarah ini tak pelak lagi disambut dengan tepuk tangan meriah sebagai tanda suka cita khususnya oleh rombongan asal Kabupaten Manggarai (Pemda, DPRD, tokoh masyarakat Manggarai Timur) yang ikut menghadiri dan menyaksikan jalannya sidang di gedung wakil rakyat itu.

Satu hal menarik yang patut dicatat ialah identitas Manggarai yang melekat dalam ekspresi penyambutan kelahiran Kabupaten Manggarai Timur itu. Busana motif daerah serta peci (songkok re’a) di kepala yaitu topi=songkok yang dianyam dari jenis pohon pandan = re’a, berdaun lurus, panjang pipih,lebar, pinggirnya berduri, dengan aksesoris simbol komodo semakin memperkuat wajah Manggarai di mata publik nusantara. Spontan mereka melantunkan lagu khas Manggarai Timur danding diiringi hentakan sanda (sejenis tarian rakyat).

Ungkapan rasa cinta akan alam Manggarai dalam menyambut peristiwa ini membuat mereka hanyut dalam gempita mars daerah (Pemda) Manggarai berjudul Gunung Ranaka (GR) dari mimbar utama gedung DPR RI (Baca: Pos Kupang, 18 Juli 2007). Satu-satunya Kabupaten di NTT (sebelum pemekaran) mungkin juga di seluruh tanah air yang memiliki lagu mars daerah ciptaan Sekda Kabupaten Manggarai, Pius Papu (alm). Bait pertama berbunyi: Gunung Ranaka tinggi menjulang/rimba belukar padang nan hijau membentang/Sawah dan ladang menguning nan emas di antara lembah ngarai dan sungai mengalir. Lagu ini sesungguhnya berceritera tentang identitasdan realitas alam Manggarai sejak dahulu kala. Dasar filosofis GR senantiasa mengikat jati diri orang Manggarai walau terbagi dalam tiga wilayah pemerintahan tetap dalam satu totalitas keunikan yaitu Manggarai. Semua ini telah terpatri dalam alamnya (tanah yang subur, hutan, gunung, sungai, pantai, danau, pohon raping=enau, pisang, kelapa, kopi, dll) budaya, bahasa, tata cara adat, seni rakyat yang sangat kaya dan beraneka ragam.

Mbaru Wunut

Saat ini terdapat tiga kabupaten di Manggarai yaitu Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Kabupaten Manggarai (induk) dan Kabupaten Manggarai Timur (KMT). Anda tahu berapa luas Manggarai? Mencapai 7.136,4 km2. Ada 44 pulau yang tersebar di pesisir pantai di Manggarai termasuk Pulau Komodo. Dibanding Propinsi Bali, cuma 5.632,86 km2 atau kabupaten-kabupaten di Jatim semisal Nganjuk (1.182,64 km2), Situbondo (1.457,10 km2), Jember (2.948,50 km2), dll, (Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, Depdikbud, Balai Pustaka, Jakarta 1995).

Sungguh sebuah kawasan yang mahaluas. Jadi dapat dibayangkan bagaimana sulitnya seorang Bupati Manggarai mengurus dan melayani kebutuhan pembangunan daerah dan masyarakat di kawasan seluas itu yang terbentang dari ujung timur di Waemokel (sungai yang membatasi Kabupaten Manggarai dan Ngada yang berdekatan dengan pelabuhan feri Aimere) hingga selat Sape antara Pulau Komodo dan Pelabuhan Sape di Pulau Sumbawa (NTB).

Manggarai dengan Ruteng sebagai ibu kota sulung (induk) ibarat sebuah tapak tilas hakekat Manggarai yang berakar padasebuah sentralitas dari berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik serta perkembangan kemajuan di wilayah ini. Dia merupakan simbol dimana "Kraeng (keraeng) Adak" (orang terpandang, terhormat dan disegani sebagai pemimpin) berdiam. Manggarai dalam perjalanan sejarah bangsa ini tercatat sebagai masyarakat lokal yang begitu gigih menentang penjajah Belanda. Akibatnya terjadilah pertempuran (perang) di Copu yang melibatkan pasukan rakyat Manggarai pimpinan Motang Rua melawan pasukan Belanda pada tahun 1907. Semangat nasionalisme dalam bingkai Manggarai telah mengangkat harkat dan martabat orang Manggarai lewat kepahlawanan Motang Rua.

Ketika Mbaru Wunut (rumah adat) hadir di tengah-tengah kota Ruteng beberapa tahun silam eksistensi Manggarai ditampilkan lewat rumah adat tersebut. Sebuah diorama yang mencerminkan masyarakat Manggarai sebagai warisan nenek moyang yang tak terhingga nilainya. Ia merunut kembali perjalanan sejarah tat kala sistem kepemimpinan konvensional masyarakat tempo dulu ada di pundak raja-raja Manggarai keturunan ‘keraeng’ seperti Baruk, Bagung, Ngambut yang pusatnya di Todo dan Pongkor daerah Kecamatan Satar Mese. Nuansa kebesaran Manggarai sebagai sebuah kerajaan terbaca dalam sistem pemerintahan lama dimana seluruh kawasan Manggarai diatur dalam 30 lebih wilayah-wilayah pemerintahan yang disebut kedaluan dan dipimpin oleh seorang dalu, Keraeng Dalu. Antara dalu-dalu dengan top pimpinan yang berkedudukan di Ruteng peralihan dari sistem raja ke kepemimpinan Kepala Daerah (Bupati) memiliki hubungan tali keturunan terpandang (rang keraeng). Mbaru Wunut itu telah menyatukan etnik Manggarai dalam satu karakter budaya, adat istiadat, bahasa yang sama yangterbentang dari timur sampai ke barat. Simbol utama yang tampak adalah rangga kaba (tanduk kerbau) yang dipancang di puncak mbaru wunut melambangkan orang Manggarai yang pekerja keras seperti seekor kaba lambar ‘kerbau liar’ (Baca: Anton Pandong;"Gereng Cekoen ta Mbaru Wunut", Surya, 23 Maret 1991). Kerbau yang menjadi simbol tata cara adat seperti dalam urusan perkawinan sejak dahulu kala menjadi bagian terpenting. Tidak heran ini menjadi salah satu nomor jenis "belis" yang berlaku di kalangan masyarakat meski dalam perjalanannya mengalami modifikasi sesuai perkembangan jaman.

Bahasa Manggarai

Keunikan Manggarai ditinjau dari sudut sosio-etno linguistic adalah sebuah fenomena budaya yang kaya dan bernilai luhur. Entah di Manggarai barat, tengah, mau pun timur bahasa Manggarai adalah identitas daerah yang begitu kokoh. Seluruh masyarakat Manggarai merasa satu ketika media komunikasi ini hadir sebagai mediator dalam setiap perilaku kehidupan sosial diiringi tata cara adat yang berciri khas setempat. Salah satu contoh yang sering ditemukan ialah acara penyambutan tamu pejabat yang selalu diwarnai oleh tata cara adat dengan penggunaan bahasa Manggarai (style) yang santun dan indah serta simbol-simbol tradisi yang masih kuat seperti seekor ayam dan robo tuak (minuman arak dari sadapan pohon aren yang tersimpan dalam sebuah wadah dari sejenis labu yang sudah kering). Keindahan budaya tersebut adalah warisan leluhur orang Manggarai yang wajib dituruntemurunkan.

Ahli bahasa (linguis) yang pernah mengadakan penelitian danmenghasilkan karya dokumenter bahasa Manggarai adalah Jilis AJ Verheijen SVD. Misionaris berkebangsaan Belanda inilah yang pertama kali menggunakan istilah barat, tengah, timur dalam konteks wilayah bahasa Manggarai (linguistic area) berdasarkan hasil studi dan penelitiannya dan berhasil membuat Peta Bahasa Manggarai. Bahkan menurut beliau, bahasa Manggarai terdiri dari empat dialek mayor yaitu dialek Manggarai Barat, dialek Manggarai Tengah, dialek Manggarai Timur, dan dialek SH. Dinamakan dialek SH karena masyarakat pemakai bahasa Manggarai di daerah Kolang, Pacar, Berit, Rego, Nggalak menyebut konsonant /s/ menjadi /h/ seperti pada kata ‘salang=jalan’ menjadi ‘halang’. Masing-masing wilayah dialek memiliki variasi-variasi bahasa (variant) yang menarik dan cukup banyak. Bayangkan, Manggarai Timur sendiri memiliki 6 sub dialek yaitu Rongga, Mbaen, Baiq, Pae, Toe, Ning dengan spesifikasinya masing-masing, namun semuanya tetap dikenal sebagai bahasa Manggarai.

Demikian halnya di Manggarai Barat ada dialek Kempo, Boleng, Mata Wae, Welak, sedangkan Manggarai Tengah lebih monodialek dengan distingsi intonasi yang sangat khas. Oleh karena itu kalau orang Manggarai tengah berbahasa Indonesia, maka logat dan intonasi Manggarai tengah sering terbawa-bawa dalam penggunaan bahasa Indonesia (Sumber: Willem Berybe ‘Manggarai Noun and Verb Formation, A Descriptive Analysis of The Morphology of The Manggarai Tengah Dialect (A Comparative Study); Thesis, English Department Fakultas Kegu-ruan Unversitas Negeri Nusa Cendana Kupang, 1982).

Kehadiran tiga kabupaten dengan wilayah kekuasaan dan pemerintahan yang berbeda-beda di Manggarai adalah sebuah entitas Manggarai dalam model "three in one". Ia tetap beradadalam satu konteks Manggarai berdasarkan identitas, originalitas serta sejarah Manggarai sebagaimana dipaparkan di atas. Manggarai bakal menciptakan tiga kekuatan raksasa di kawasan ini. Bisa dibayangkan poros tiga ibu kota kabupaten yang strategis; Borong, Ruteng, Labuan Bajo dengan sentra-sentra kekuatan ekonomi, sosial, politik, kebudayaan menjadi basis-basis kekuatan yang dapat diperhitungkan di masa depan. Tiga pelabuhan laut yang menjadi pilar ekonomi perdagangan Labuan Bajo di Mabar, Reo di Kabupaten Manggarai, dan Borong di KMT termasuk kandidat pelabuhan laut Wae Wole di kawasan Wae Lengga yang semakin diincar investor serta jaringan transportasi udara yang kian sibuk dan padat baik di Bandara Satar Tacik Ruteng mau pun Mutiara Labuan Bajo memperlihatkan potensi-potensi SDA Manggarai yang handal.

Tinggal saja, apakah SDM Manggarai mampu memberdayakannya dan bukan memperdayakannya? *

1 komentar:

moza mengatakan...

patut di banggakan ,,,krn bahasa manggarai sudah di teliti oleh orang2 barat dan mereka senang sekali pakai bahasa manggarai alnya bahasa manggarai tuh unik banget...t